“cebooNk Zone”

4 April 2007

APA ITU WIRELESS BROADBAND?

Filed under: CebooNk_EdutaiNment — ceboonk @ 11:22:47

Mulai bulan Februari 2002 biaya langganan telepon naik, berarti pengeluaran untuk internet juga akan bertambah. Selain kecepatan yang lambat karena telepon tergolong NARROWBAND, juga masalah kabel yang simpang siur dan kena banjir menjadi kendala yang harus dipertimbangkan sehingga dicari solusi yang lain yaitu WIRELESS BROADBAND.

Pak Oei Yam Tjhioe, anggota Majelis Sekolah SMKK 2 BPK PENABUR Jakarta mencoba menguraikan masalah ini sehingga rencana pemasangan wireless broadband internet di BPK PENABUR sebagai trial unit dari product Pointred – USA dapat terlaksana.

Beberapa segi yang harus ditinjau menyeluruh :

  1. Teknis
  2. Aplikasi
  3. Ekonomis
  4. Kultur

Teknis

  1. Masalah peralatan untuk melaksanakan broadband internet, Pointred dapat menyajikan dalam bentuk : Base station, yang mampu menyalurkan bandwidth (kecepatan komunikasi) 4 Mbps (megabit per second), kelangganan pemakai dengan cpe (customer premises equipment), tergantung besarnya bandwidth yang dibutuhkan oleh pelanggan, diperhitungkan dengan QoS (Quality of Service) bila di perhitungkan untuk 150 pelangan dan semua online maka masing-masing dapat kebagian 4000 Kbps/150=26Kbps. Bila digunakan QoS 1 : 8 (artinya diharapkan pada waktu yang bersamaan hanya 8 pemakai yang online berbarengan) maka dapat diharapkan tiap pemakai rata-rata dapat 26 X 8 = 208 Kbps. Demikian untuk pemakaian yang lebih besar QoS misalnya 1 : 10 maka masih boleh ditingkatkan lagi kecepatannya, jadi pemakaian jumlah langganan dan QoS akan menentukan juga berapa beaya dari tiap pemakai.
  2. Untuk menghemat dan memperluas pemakaian cpe, akan ditambah dengan kemampuan pemakaian LAN (Local Area Network) melalui wi-fi (IEEE 802.11b)– dengan frequensi 2,4 GHz (tanpa perlu lisensi), untuk daerah pemakaian 300 meteran, dapat digunakan misalnya satu Cpe, untuk satu lantai gedung bertingkat, selanjutnya disalurkan melalui wireless LAN, kelantai itu—. yang sekarang ini sudah mulai populer dipakai di Indonesia juga, bahkan digunakan untuk menggantikan base station dan cpe konsep Pointred yang memiliki kemampuan perobahan frequency pemakai yang lebih fleksible, yaitu 2,4 ~ 5,7 GHz tergantung lisensi yang dapat diberikan oleh Pemerintah. Maka dalam hal ini izin pemakaian frequency akan menjadi penting sekali untuk segera diminta, karena makin lama makin banyak pemakai makin mahal lagi izin itu akan diberikan.
  3. Base station itu harus diisi content, 
    1. Internet internasional: Ini yang menjadi kendala utama, karena mahalnya beaya yang ditawarkan oleh pemilik saluran bandwidth. Misalnya tawaran dari Satelkom, dengan MeteorBytenya, minta Rp.7 Juta/bulan.- Masalah ini akan coba di pecahkan oleh Pointred dengan mencarikan supplier badwidth ini dari luar negeri dengan menggunakan satelite yang lain dari satelite yang dipakai monopoly indosat itu. Mudah-mudahan akan tercapai harga yang reasonable untuk berguna dipasang langganannya. 
    2. Local content dari kebutuhan BPK PENABUR sendiri, misalnya untuk e-Library, VoIP, video conference, video on demand, e distance learning dll. dll. aplikasi. Dalam hal ini Pointred akan berusaha sedapat mungkin membantu memecahkan masalah ini, melalui kolaborasi dengan perusahaan yang lebih luas lagi, sesuai dengan kebutuhan.

Bila ada pertanyaan untuk hal di atas dapat dikirimkan via e-mail ke Pak Oei Yam Tjhioe <ojtswu@indosat.net.id>, sedang aspek lain akan disambung kemudian.

IZIN 2.4 GHz

Menarik sekali membicarakan izin 2.4 GHz. Kebetulan Roy Suryo menulis “Saya Dibungkam Bicara Kenaikan Tarif” dalam milis genetika@yahoogroups.com pada tanggal 9 Feb. 2002, salah satu alinea sbb: “Kalau dari masyarakat, mungkin bisa membuat dan mencari alternatif telekomunikasi murah untuk rakyat. Misalkan dengan menggunakan frekuensi 2,4 Mhz yang beberapa waktu lalu sempat dikatakan ilegal oleh pemerintah. Bicara peraturan, memang frekuensi tersebut hanya diperuntukkan kalangan terbatas. Tapi untuk memperlebar akses masyarakat terhadap telekomunikasi, saya setuju untuk dibuka”.

Segera penulis menjawab sbb: “Setuju sekali. Saya pernah baca di milis ini bahwa frekuensi 2,4 Mhz gratis untuk lembaga pendidikan, betul? Bagaimana cara mengurus ijinnya?”

Onno W. Purbo <onno@indo.net.id> langsung menjawab pada tanggal 10 Feb 2002 sbb: “Mungkin tepatnya frekuensi 2.4GHz bukan 2.4MHz. Betul 2.4GHz engga perlu pakai ijin buat pendidikan. Cara ngurus ijin-nya .. ya engga usah di urus koq . Pakai aja Yang ada adalah registrasi aja. Biasanya di koordinir oleh rekan-rekan di indowli@yahoogroups.com Peralatan utk Internet di 2.4GHz  jatuhnya sekitar Rp. 3 juta-an termasuk antenna, coax, card-nya … di luar PC … bisa di pakai utk akses pada kecepatan 11Mbps jarak 4-5 km-an.”

Karena Onno W. Purbo pernah memberikan WORKSHOP LINUX di SMKK 2 BPK PENABUR Jakarta pada tanggal 15 November 2001 segera ditawarkan untuk membuat WORKSHOP WIRELESS BROADBAND, apakah jawabnya? “Dengan senang hati … Mungkin ada baiknya juga di undang untuk bicara adalah pak michael@batutulis.com & pak sumaryo@netadsl.net  Saya bisa menerangkan teknik design metropolitan area network-nya maupun instalasi routing, peralatan dll-nya di Linux. Bukunya berjudul “Teknologi Internet Nirkabel 11Mbps” sedang dalam proses penerbitan. Harusnya sih sedang dalam proses naik cetak. Kemarin sudah habis-habisan di edit silahkan hubungi apung@bogor.net atau michael@batutulis.com Kalau menguasai teknik ini engga susah koq bikin infrastruktur broadband sendiri🙂 …”.

Bagaimana komentar dari Michael S. Sunggiardi < michael@batutulis.com > yang populer dengan nama panggilan Opa? “Dari tahun lalu, saya sebetulnya sedang mengincar satu perangkat wireless HEYBAT, dimana dalam satu rack 19″ ada 6 slot kosong, satu slot bisa dipasang 4 radio, satu radio bisa melayani 60 pelanggan, jadi totalnya bisa melayani 4 x 60 x 6 = 1.440 pelanggan. Produk ini sayangnya belum ada yang keluaran-nya RJ-45, tetapi menurut Vice President-nya yang bulan lalu ketemu saya di Jakarta, akhir Februari ini sudah READY, karena selama ini pakainya USB. Perangkat ini dibuat sedemikian praktis, sehingga kita tidak perlu lagi pakai antena dan mikirin loss di kabel coaxial, karena di sisi client-nya hanya ada satu kotak sebesar kotak sabun, dimana di dalamnya sudah ada antena 8dB dan radio serta digital konektornya, dan tinggal mengarahkan ke antena di base.  Turun ke bawahnya sudah berbentuk kabel digital. Hari ini, Minggu 10 February 2002 saya akan berangkat ke Anaheim untuk ketemu yang bersangkutan, melihat prototip konektor RJ-45-nya, sekalian minta kredit …. hehehe. Mudah-mudahan setelah satu tahun ditunggu bisa ada hasilnya. Kemudian soal harga, satu base-nya sekitar USD 5.000 (saya belum bisa kasih harga pas-nya, karena mesti menghitung ongkos kirim dari Amerika), bisa dipakai untuk 1.440 user, jadi per clientnya hanya tiga dolar saja, tarohlah kita pakai untuk 4 x 60 user, masih sekitar 21 dolar. Client-nya yang berbentuk kotak sabun, harganya sekitar USD 400 dengan kapasitas maksimum 231Kbps !  Bisa dipasang cukup dengan pipa ledeng biasa saja, dan bisa bekerja di jarak sekitar 5 km. Soal harga, sebetulnya saya ditantang, kalau bisa beli diatas 2.000 unit, bisa dipotong lagi harganya …….. cuma apa sanggup kita ???? Opa”.

Moga-moga berkat bantuan banyak pihak, wireless broadband internet di BPK PENABUR cepat menjadi kenyataan.Bambang Gunawan, 8-2-2002

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: