“cebooNk Zone”

5 March 2007

La Liga

Filed under: CebooNk_spoRt — ceboonk @ 14:36:54

Ramos Ingin Seperti Wenger
2007-03-05 10:45:39

Juande Ramos (© AFP 2006)  Sevilla. Klub ini terakhir menjuarai La Liga, kompetisi divisi utama Spanyol, pada tahun 1946. Berarti telah 50 tahun lebih klub yang bermarkas di Ramon Sanchez Pizjuan ini puasa dari gelar juara. Mungkinkah di musim 2006-07 ini harapan itu tercapai?

Sangat mungkin jika menyimak perjalanan tim Andalusia itu dalam dua tahun terakhir. Berkat tangan dingin Juan de la Cruz Ramos Cano, atau yang lebih dikenal dengan Juande Ramos, Sevilla berhasil membuka mata dunia, bahwa Spanyol bukan hanya Barcelona, Real Madrid, atau Valencia.

Setelah mampu merengkuh juara UEFA Cup musim lalu (2005-06), gelar Eropa pertama sepanjang sejarah klub, pasukan Ramos kini menjadi kandidat terkuat untuk menghalangi niat Barcelona untuk mencetak hat-trick di La Liga. Tandanya, keberhasilan Frederic Kanoute dkk menumbangkan pasukan Frank Rijkaard 2-1 (1-1) Sabtu, 3 Maret 2007 lalu yang sekaligus menempatkan Sevilla—untuk sementara—berada di puncak tertinggi klasemen La Liga musim 2006-07.

Berkat prestasinya mengangkat Sevilla membuat pelatih berusia 52 tahun itu—yang sempat terkapar di tengah lapangan karena terkena lemparan botol fans Real Betis dalam derby Sevilla di ajang Copa del Rey, Rabu, 28 Februari 2007 lalu—kini dikabarkan menjadi kandidat terkuat untuk menjadi pelatih dua klub besar Eropa, Barcelona dan Chelsea.

Selain prestasi, platform menyerang yang selalu diusung Ramos dalam setiap penampilan timnya di lapangan membuat dua klub elite itu kesengsem. Ramos pun sadar betul dirinya sedang diincar. “Saya tahu klub-klub besar sedang memperhatikan saya,” kata Ramos seperti yang dikutip The Times Online. “Saya ingin mencapai puncak pertandingan, Karena itu saya menginginkan dapat memiliki tim yang dipenuhi sejumlah pemain terbaik di dunia yang akan bertanding dengan filosofi yang saya miliki: filosofi yang bakal tak terkalahkan,” tegas Ramos.

Filosofi apa yang dimaksud? “Jika tim Anda terdiri dari para pemain terbaik di dunia dan bermain dengan filosofi seperti yang saya anut, saya jamin tim Anda bakal tak terkalahkan. Saya telah membutkikan bersama Sevilla, dimana kesuksesan dapat kami raih. Tapi, kami belum mampu memboyong pemain terbaik di dunia. Andaikata saya bisa mendapat pemain terbaik itu dan mereka pun bermain dengan kepercayaan dan doktrin yang saya miliki maka saya yakin (tim) saya tidak akan terkalahkan,” tandas Ramos.

Ramos pun ‘menyindir’ Chelsea. “Tim manapun yang mempunyai pemain top, Chelsea misalnya, dan bermain dengan sikap mental yang kami miliki, maka tentunya mereka tidak dapat dikalahkan. Mereka mempunyai komposisi atau skuad terbaik di liga mereka (Liga Premier) dan apabila mereka bermain dengan sikap dan mental seperti yang kami miliki, maka saya yakin mereka (Chelsea) tidak dapat dikalahkan,” imbuhnya.

Ketika disinggung tentang spekulasi ketertarikan dari Barcelona dan Chelsea, Ramos tidak mau menjawabnya secara terus terang. “Sangat sulit bagi saya untuk mengatakan kemana saya akan pergi (melatih klub). Jika saya mengatakan (saya akan melatih) Chelsea, maka Barcelona mungkin akan menyatakan tidak memerlukan kehadiran saya. Karena itu, saya ingin mencari tantanngan bermain di Liga Champions dengan salah satu klub besar. Saya pikir Inggris adalah tempat yang sangat pas untuk bekerja (melatih). Saya sangat menyukai intensitas dan rasa emosi yang timbul dalam setiap pertandingan. Apalagi, mendapat dukungan penuh dari para fans,” kata Ramos.

Mantan pelatih Malaga itu pun mengetahui karena filosofinya yang dianutnya selama bertanding itulah yang membuat ia menjadi perhatian klub-klub besar. Apalagi, Ramos dan Sevilla berhasil membuktikan kesuksesan akademi sepakbola mereka. Selama lima tahun terakhir, 20 pemain lulusan akademi mampu menerobos tim utama.

“Alasan begitu banyak klub memerhatikan saya karena ideologi yang saya anut. Sevilla bukanlah klub utama di Eropa. Tapi, kami mampu bersaing dengan mereka dengan ideologi yang saya anut, yaitu menyerang, menghibur, dan tak pernah merusak makna pertandingan itu sendiri,” katanya. Contohnya, “Saya menginstruksikan kepada para pemain untuk selalu ambisius. Tak cukup bagi kami untuk memenangkan partai hanya dengan satu gol saja. Kami selalu mencari gol kedua, ketiga ataupun keempat. Saya sadar formula seperti itu sangat berisiko. Tapi, itulah filosofi yang saya anut, bermain sepakbola sampai akhir pertandingan,” ujar Ramos.

Ramos mengakui dengan idealisme yang ia anut ia ingin menjadi sosok pelatih yang dikenang, menjadi ‘ada’ dari awalnya ‘tiada’. “Saya harap publik dapat mengenang dan mengenali apa yang telah saya kerjakan, persis seperti apa yang telah dilakukan Arsenal ketika memboyong (Arsene) Wenger. Ia (Wenger) telah melakukan hal yang fantastis. Padahal, ketika ia tiba di London, sangat sedikit orang yang tahu siapa Wenger,” terang Ramos.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: